Cakra Budaya Indonesia

Memperkenalkan budaya indonesia kepada seluruh orang dimuka bumi ini
 
IndeksCalendarFAQPencarianAnggotaGroupPendaftaranLogin
Login
Username:
Password:
Login otomatis: 
:: Lupa password?
Jam
shoutmix

isi comment dong
Latest topics
» Mengtasi Net Cut tanpa software
Fri Nov 12, 2010 10:54 pm by Admin

» Tips Dan Trik Setelah Makan Jengkol
Fri Nov 12, 2010 10:48 pm by Admin

» Ini Dia 2 Bocah yang Mengidap Penyakit Vampire (Draculla)
Fri Nov 12, 2010 10:11 pm by yulai

» Ini Dia Secret Service, Perisai Presiden AS
Fri Nov 12, 2010 10:04 pm by yulai

» Tempat Paling Gelap di Muka Bumi
Fri Nov 12, 2010 10:01 pm by yulai

» Cara Pasang Youtube di WordPress
Fri Nov 12, 2010 3:07 pm by Mr. chung

» Cara Pasang Avatar Gravatar Blavatar di WordPress
Fri Nov 12, 2010 2:32 pm by Mr. chung

» Cara Daftar Blog WordPress
Fri Nov 12, 2010 2:23 pm by Mr. chung

» Font Uploader Wordpress
Fri Nov 12, 2010 1:46 pm by Mr. chung

» Cara Cepat Membuka Nama Domain
Fri Nov 12, 2010 10:31 am by Admin

» Tips Ampuh Memilih Web Hosting
Fri Nov 12, 2010 10:19 am by Admin

» taruh magnet dekat otak bisa bikin kidal
Thu Nov 11, 2010 2:05 pm by Admin

» 10 SAHABAT RASUL YANG DI JAMIN MASUK SURGA
Thu Nov 11, 2010 1:41 pm by Admin

» Asal Mulanya Nama Indonesia
Thu Nov 11, 2010 12:56 pm by Admin

» Sejarah Tentang Penemuan Lambang Burung Garuda
Thu Nov 11, 2010 12:39 pm by Admin

Top posters
Admin
 
yulai
 
Mr. chung
 
shinichi81
 
b_you50
 
neng.cantik
 
iren
 
nisa.cena
 
Link status
Ym

Kunjungan

Share | 
 

 Kampung Batik Kauman Solo

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Admin
Admin
Admin


Jumlah posting : 208
Reputation : 0
Join date : 12.10.10

PostSubyek: Kampung Batik Kauman Solo   Fri Oct 15, 2010 9:40 am

Kampung Kauman mempunyai kaitan erat dengan sejarah perpindahan kraton Kartosuro ke Solo yang kemudian berubah nama menjadi Kasunanan. Kauman merupakan tempat ulama yang terdiri dari beberapa lapisan masyarakat mulai dari penghulu tafsir anom, ketip, modin, suronoto dan kaum. Keberadaan kaum sebagai penduduk mayoritas di kawasan inilah yang menjadi dasar pemilihan nama "kauman".



Kampung Batik Kauman Solo
Masyarakat kaum (abdi dalem) mendapatkan latihan secara khusus dari kasunanan untuk mebuat batik baik berupa jarik/selendang dan sebagainya. Dengan kata lain, tradisi batik kauman mewarisi secara langsung inspirasi membatik dari Ndalem Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Berdasarkan bekal keahlian yang diberikan tersebut masyarakat kauman dapat menghasilkan karya batik yang langsung berhubungan dengan motif-motif batik yang sering dipakai oleh keluarga kraton.



Dalam perkembangannya, seni batik yang ada di kampung kauman dapat dibedakan menjadi tiga bentuk yaitu batik klasik motif pakem (batik tulis), batik murni cap dan model kombinasi antara tulis dan cap. Batik tulis bermotif pakem yang banyak dipengaruhi oleh seni batik kraton Kasunanan merupakan produk unggulan kampung batik kauman. Produk-produk batik kampung kauman dibuat menggunakan bahan sutra alam dan sutra tenun, katun jenis premisima dan prima, rayon.

Kampung yang memiliki 20-30an home industri ini menjadi langganan dari para pembeli yang sudah terjalin secara turun temurun dan wisatawan mancanegara (Jepang, Eropa, Asia Tenggara dan Amerika Serikat). Keunikan yang ditawarkan kepada para wisatawan adalah kemudahan transaksi sambil melihat-lihat rumah produksi tempat berlangsungnya kegiatan membatik. Artinya, pengunjung memiliki kesempatan luas untuk mengetahui secara langsung proses pembuatan batik. Bahkan untuk mencoba sendiri mempraktekkan kegiatan membatik.

Disamping produk batik, kampung batik Kauman juga dilingkupi suasana situs-situs bangunan bersejarah berupa bangunan rumah joglo, limasan, kolonial dan perpaduan arsitektur Jawa dan Kolonial. Bangunan-bangunan tempo dulu yang tetap kokoh menjulang ditengah arsitektur modern pusat perbelanjaan, lembaga keuangan (perbankan dan valas), homestay dan hotel yang banyak terdapat disekitar kampung kauman. Fasilitas-fasilitas pendukung yang ada di sekitar kampung kauman ini jelas menyediakan kemudahan-kemudahan khusus bagi segenap wisatawan yang berkunjung dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan lain di luar batik.

Kampung Batik Kauman Solo
Lebih Jauh Tentang Kampung Kauman:
(Oleh Musyawaroh):



Kelurahan Kauman yang memiliki luas 20,10 hektare merupakan salah satu kampung lama di pusat kota yang mempunyai kaitan erat dengan Keraton Surakarta. Kampungnya menyatu dengan Mesjid Agung, mempunyai karakter spesifik dengan bangunan-bangunan kuno bercirikan arsitektur tradisional Jawa, serta kegiatan masyarakat bernuansa Islami yang ada di dalamnya.

Kauman mulai tumbuh saat Paku Buwono III membangun Mesjid Agung pada tahun 1757 M. Sang Raja mengangkat Tafsir Anom sebagai Penghulu Mesjid Agung. Dalam melaksanakan tugas sehari-harinya, penghulu Mesjid Agung dibantu oleh abdi dalem ulama lainnya (antara lain Ketib dan Merbot). Para abdi dalem ulama beserta santri-nya tinggal di sekitar Mesjid Agung yang kemudian berkembang dan dinamakan Kauman yang berarti kampung “Kaum”.

Pada mulanya para abdi dalem ulama hanya bekerja sebagai abdi dalem saja, istrinya bekerja sambilan membatik di rumahnya untuk konsumsi keraton. Seiring berjalannya waktu usaha rumah tangga tersebut kemudian berkembang menjadi usaha batik dan kerja rangkap ini berhasil menaikkan taraf ekonomi masyarakat. Usaha inilah yang antara lain menyebabkan masyarakat Kauman dapat membangun rumah yang megah/indah pada awal tahun 1800 sampai dengan pertengahan tahun 1900 (berdasarkan hasil penelitian tahun penulis lakukan tahun 1998).

Kampung tersebut menjadi makmur karena hidupnya usaha batik yang mendominasi kehidupan masyarakat pada masa itu. Bahkan menurut penelitian Wiwik Setyaningsih (tahun 2000), keberhasilan usaha ini menarik minat para pendatang (teteko) untuk tinggal di wilayah Kauman dan menjadi kawula dalem yang bekerja memenuhi segala kebutuhan keraton seperti menjahit (kampung Gerjen), membuat kue (kampung Baladan), membordir (kampung Blodiran) dan sebagainya.

Adanya kesamaan status sosial dan agama telah mendorong terjadinya perkawinan antarsaudara (yang oleh Adaby Darban disebut endogami), dengan demikian terbentuklah masyarakat Kauman menjadi masyarakat yang mempunyai ikatan pertalian darah/kekeluargaan yang pekat.

Kampung Batik Kauman Solo
Nilai Historis

Akan tetapi tahun 1939-1970an usaha batik tulis mengalami kebangkrutan. Oleh karena sebagian besar penghuni beralih profesi ke bidang lain, bekas tempat usaha batik menjadi terbengkelai dan tidak terawat. Jumlah pengusaha batik yang aktif produksi dan menjual hasil usahanya di wilayah tersebut jauh berkurang dari sekitar 65, sekarang hanya tinggal 22, selebihnya melakukan pemrosesan batik di luar Kauman.

Kelurahan Kauman bermula dari Kawedanan Yogiswara/Kapengulon. Mesjid Agung dan sekitarnya adalah tanah milik Keraton yang disebut Bumi Pamijen Keraton atau Domein Keraton Surakarta. Kauman disebut Bumi Mutihan atau Bumi Pamethakan yaitu wilayah yang hanya boleh dihuni oleh rakyat (kawula dalem) yang beragama Islam. Tanah-tanah swapraja/bekas swapraja ini menurut Kepmendagri 26 Mei 1988 Nomor 593.82/1957/SJ sesuai dengan Diktum ke 4 huruf A UUPA semenjak 24 September 1960 telah dihapus haknya dan beralih kepada negara, tanah tersebut kemudian menjadi tanah negara dan dapat dimohon oleh siapa pun yang memenuhi syarat untuk menjadi hak milik (demikian informasi dari Tondonegoro, Bagian Pasiten, tahun 1998).

Nama kampung di wilayah Kauman diberikan berdasarkan aktivitas penghuninya, kampung Pangulon yaitu tempat tinggal penghulu keraton, kampung Sememen sebagai tempat tinggal ketib Sememi, kampung Modinan merupakan tempat tinggal para modin. Selain itu terdapat kampung para teteko (Kampung Baladan, Brodiran, Gerjen, dan lain-lain). Sedangkan nama jalan diambil dari simbol-simbol kebesaran Keraton Surakarta yang dianggap mempunyai kekuatan sakral/magis, di antaranya nama jalan Wijayakusuma dan Kalimosodo, semuanya mempunyai nilai historis yang sakral, demikian menurut Biwadanata PB X yang diungkapkan oleh Wiwik Setyaningsih, 2000.

Saat ini terdapat perbedaan kehidupan sosial ekonomi yang cukup menyolok antara masyarakat Kauman yang tinggal di bagian dalam, dengan yang tinggal di bagian tepi jalan besar. Masyarakat yang tinggal di bagian dalam, sebagian besar penduduk asli dengan mata pencaharian sebagai pedagang atau meneruskan usaha batik orangtuanya. Sedangkan masyarakat yang tinggal di tepi jalan besar umumnya keturunan Tionghoa. Rumah mereka dimanfaatkan untuk toko/perkantoran.

Potensi bangunan kuno, batik dan budaya masyarakat yang khas tidak terlihat dari luar, tertutup pertokoan dan perkantoran. Hal inilah yang salah satu menjadi penyebab Kauman kurang dikenal oleh masyarakat luas, diperlukan upaya untuk memecahkannya sehingga orang dapat tertarik untuk masuk ke kawasan ini.

Kampung Batik Kauman Solo
Kauman adalah wilayah Kampung Lama yang layak untuk dilestarikan dan dikembangkan menjadi kampung wisata religius dan batik dengan alasan antara lain, pertama, merupakan kampung lama bersejarah lengkap dengan artefak bangunan kunonya, seperti Mesjid Agung, Langgar, Rumah Abdi Dalem Ulama dan Rumah Pengusaha Batik yang sebagian besar masih asli dan siap dibangkitkan kembali.

Kedua, masyarakat masih memegang teguh ajaran Islam. Wisata kampung abdi dalem ulama dan batik, menjadi potensi ciri khas Kauman yang tidak dijumpai ditempat lain. Ketiga, Sangat erat kaitannya dengan Keraton Surakarta. Upaya pengembangan kampung ini bisa memperkuat keberadaan Keraton dan kampung-kampung lama yang ada di sekitarnya.

Keempat, terletak di wilayah komersial perdagangan dan perkantoran sehingga mempunyai kemungkinan perkembangan ekonomi lebih mudah dan cepat. Kelima, fakta bahwa Kampung Kauman terletak di Koridor Budaya Surakarta (Keraton-Mangkunegaran-Pasar Gedhe), yang merupakan wilayah dengan prioritas penanganan konservasi. Alasan keenam yakni minat masyarakat setempat yang besar dalam memberdayakan wilayahnya. Hal ini dibuktikan dengan dibentuk/dilantiknya Paguyuban Kampung Wisata Batik Kauman pada 7 April 2006 lalu.

Adalah suatu usaha yang patut dihargai dan perlu didukung oleh semua pihak, minat dari masyarakat setempat untuk “menghidupkan kembali” kejayaan wilayahnya. Ide tersebut sudah mendapatkan tanggapan yang positif dari pihak Pemerintah Kota Surakarta. Penanganan wilayah ini harus segera dilaksanakan supaya tidak berakibat semakin hancur dan rusaknya wilayah yang sangat potensial ini. (Penulis adalah Dosen Fakultas Teknik UNS Surakarta)
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://indonesia.canadacry.net
 
Kampung Batik Kauman Solo
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» JUAL BAJU BATIK kualitas butik harga terjangkau!
» Open Trip Gunung Galunggung+Kampung Naga 6 Februari 2016 Only 330.000/pax
» PIL BIRU AJAIB(USA)no.1 PATENT 081311175544
» Pendakian Gunung Rinjani (ala Backpacker) 13-17 Mei 2015 (low budget dan pasti berangkat)
» Wisata Garut 0815-1967-6638

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Cakra Budaya Indonesia :: Budaya Indonesia :: Kesenian-
Navigasi: